Thursday, June 25, 2015

Manajemen Agroindustri


A.      Pengertian Manajemen Agroindustri
Tahukan Anda bahwa hampir setengah dari kegiatan produksi di Negara berkembang terdiri atas kegiatan agroindustri? Atau setujukan Anda pada pernyataan bahwa pengolahan agroindustri merupakan salah satu langkah awal menuju industrialisasi? Dan mengapa diperlukan manajemen agroindustri? Untuk mengetahui jawaban pertanyaan di atas maka kita perlu memahami terlebih dahulu pengertian dari agroindustri serta manajemen agroindustri.
            Manajemen agroindustri terdri dari dua kata yaitu manajemen dan agroindustri. Manajemen adalah tindakan untuk mencapai suatu tujuan dengan cara mengkoordinasikan kegiatan orang lain. Fungsi-fungsi atau kegiatan manajemen melipiti perencanaan, organisasi, staffing, koordinasi, pengarahan dan pengawasan. Sedangkan agroindustri berasal dari dua kata yaitu agricultural dan industry yang berarti suatu industri yang menggunakan hasil pertanian sebagai bahan baku utamanya atau suatu industri yang menghasilkan suatu produk yang digunakan sebagai sarana atau input dalam usaha pertanian. Menurut Austin (1981), agroindustri adalah perusahaan yang memproses bahan baku pertanian, termasuk hasil nabati atau hewani. Proses yang diterapkan mencakup pengubahan dan pengawetan melalui perlakuan fisik dan kimiawi, penyimpanan, pengemasan dan distribusi. Produk agroindustri dapat merupakan produk akhir yang siap dikonsumsi atau digunakan oleh manusia atau sebagai produk bahan baku industri lain. Dengan demikian, manajemen agroindustri dapat diartikan sebagai pengelolaan suatu industri yang berbahan baku utama hasil pertanian. Dengan adanya manajemen dalam agroindustri, diharapkan  sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan dapat dimanfaatkan secara optimal dengan tetap mempertimbangkan keberlanjutannya.
            Kegiatan agroindustri merupakan bagian integral dari sektor pertanian yang mempunyai kontribusi penting dalam proses industrialisasi terutama di wilayah pedesaan. Efek agroindustri tidak hanya mentransformasikan produk primer ke produk olahan tetapi juga budaya kerja dari agraris tradisional yang menciptakan nilai tambah rendah menjadi budaya kerja industrial modern yang menciptakan nilai tambah tinggi. Berdasarkan Tabel 1, agroindustri dapat dikategorikan berdasarkan tingkat proses perubahan bentuk.

Tabel 1. Kategori agroindustri berdasarkan tingkat proses perubahan bentuk
Tingkatan/level
I
II
III
IV
Pembersihan
Pemintalan
Pemasakan
Perubahan kimia
Pengelompokan
Penggilingan
Pasteurisasi
Pembentukan

Pemotongan
Pengalengan


Pencampuran
Penguapan



Pembekuan



Penenunan



Ekstraksi



Perakitan

Sumber: Austin (1981)

Strategi pengembangan agroindustri yang dapat ditempuh harus disesuaikan dengan karakteristik dan permasalahan agroindustri yang bersangkutan. Secara umum permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan agroindustri adalah: (a) sifat produk pertanian yang mudah rusak dan bulky sehingga diperlukan teknologi pengemasan dan transportasi yang mampu mengatasi masalah tersebut; (b) sebagian besar produk pertanian bersifat musiman dan sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim sehingga aspek kontinuitas produksi agroindustri menjadi tidak terjamin; (c) kualitas produk pertanian dan agroindustri yang dihasilkan pada umumnya masih rendah sehingga mengalami kesulitan dalam persaingan pasar baik didalam negeri maupun di pasar internasional; dan (d) sebagian besar industri berskala kecil dengan teknologi yang rendah.

Setelah mengetahui pengertian dari agroindustri, maka kita dapat mengetahui bahwa penerapan agroindustri sangat luas di bidang industri. Akan tetapi, apakah Anda dapat membedakan industri mana yang termasuk dalam ranah agroindustri dan industri yang seperti apa yang tidak termasuk dalam ranah ini? Pengetahuan mengenai ruang lingkup agroindustri sangat penting dalam menentukan jenis industri yang termasuk dalam ranah agroindustri.
            Agroindustri merupakan sub sektor yang luas yang meliputi industri hulu sektor pertanian sampai dengan industri hilir. Agroindustri hulu, yakni subsektor industri yang menghasilkan sarana produksi pertanian. industri ini yaitu hanya industri yang menghasilkan produksi yang berhubungan langsung dengan kebutuhan proses produksi pertanian, misalnya industry pupuk, pestisida. Agroindustri hilir, yakni subsektor industri yang mengolah hasil-hasil pertanian, misalnya industri crumb rubber yang mengolah lateks menjadi karet remah, industri pengolahan daun teh menjadi teh siap seduh, industri pengolahan gandum menjadi tepung.
Untuk lebih spesifiknya lagi, secara garis besar agroindustri dapat digolongkan menjadi empat golongan, antara lain:
a)      Industri peralatan dan mesin-mesin pertanian (IPMP)
      Mesin budidaya pertanian, yang mencangkup alat dan mesin pengolahan lahan (cangkul, bajak, traktor)
      Mesin pengolahan hasil pertanian, yang meliputi alat dan mesin pengolahan berbagai komoditas pertanian, misalnya mesin perontok gabah, mesin penggilingan padi, mesin pengering dan lain sebagainya.
b)      Industri pengolahan hasil pertanian (IPHP)
Agroindustri pengolahan hasil pertanian merupakan bagian dari agroindustri, yang mengolah bahan baku pangan, non pangan dan perhutanan, seperti:
      Pengolahan pangan/hasil tanaman pangan
      Pengolahan hasil tanaman perkebunan
      Pengolahan hasil perikanan/perairan
      Pengolahan hasil ternak
      Pengolahan hasil hutan
      Pengolahan limbah hasil pertanian
Pengolahan yang dimaksud meliputi pengolahan berupa proses transformasi dan pengawetan melalui perubahan fisik atau kimiawi, penyimpanan, pengepakan, dan distribusi. Pengolahan dapat berupa pengolahan sederhana seperti pembersihan, pemilihan (grading), pengepakan atau dapat pula berupa pegolahan yang lebih canggih, seperti penggilingan (milling), penepungan (powdering), ekstraksi dan penyulingan (extraction), penggorengan (roasting), pemintalan (spinning), pengalengan (canning) dan proses pabrikasi lainnya.
c)      Industri input pertanian
Misalnya pengolahan pupuk, pengolahan pestisida, pengolahan herbisida, dll
d)     Industri jasa sektor pertanian (IJSP)
      Komunikasi, menyangkut teknologi perangkat lunak yang melibatkan penggunaan komputer serta alat komunikasi modern lainya.
      Perdagangan, yang mencakup kegiatan pengangkutan, pengemasan serta penyimpanan baik bahan baku maupun produk hasil industri pengolahan pertanian.
      Konsultasi, meliputi kegiatan perencanaan, pengelolaan, pengawasan mutu serta evaluasi dan penilaian proyek.

Sebelum mengembangkan agroindustri pemilihan jenis agroindustri merupakan keputusan yang paling menentukan keberhasilan dan keberlanjutan agroindustri yang akan dikembangkan. Pilihan tersebut ditentukan oleh kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada tiga komponen dasar agroindustri, yaitu pengadaan bahan baku, pengolahan dan pemasaran. Pemasaran biasanya merupakan titik awal dalam analisis proyek agroindustri. Analisis pemasaran mengkaji lingkungan eksternal atau respon terhadap produk agroindustri yang akan ditetapkan dengan melakukan karakteristik konsumen, pengaruh kebijaksanaan pemerintah dan pasar internasional.
Kelangsungan agroindustri ditentukan pula oleh kemampuan dalam pengadaan bahan baku. Tetapi pengadaan bahan baku jangan sampai merupakan isu yang dominan sementara pemasaran dipandang sebagai isu kedua, karena baik pemasaran maupun pengadaan bahan baku secara bersama menentukan keberhasilan agroindustri. Tetapi karena pengkajian agronomi memerlukan waktu dan sumberdaya yang cukup banyak maka identifikasi kebutuhan pasar sering dilakukan terlebih dahulu. Alasan lain adalah karena lahan dapat digunakan untuk berbagai tanaman atau ternak, sementara pengkajian pemasaran dapat memilih berbagai alternatif tanaman atau ternak.
Karakteristik agroindustri yang menonjol sebenarnya adalah adanya ketergantungan antar elemen-elemen agroindustri, yaitu pengadaan bahan baku, pengolahan, dan pemasaran produk. Karakteristik agroindustri antara lain:
1)     Kegiatan produksi dipengaruhi oleh ketersediaan bahan baku yang dihasilkan dari kegiatan agribisnis.
2)      Produktivitas hasil dipengaruhi oleh kreativitas dan tingkat pemanfaatan teknologi proses.
3)      Penanganan produk pasca panen menjadi titik kritis.
4)   Resiko keberhasilan usaha relative lebih kecil (dapat diprediksi lebih baik atau tidak tergantung alam).
5)      Satu sumber bahan baku dapat menghasilkan produk yang bervariasi.
6)      Produk yang dihasilkan lebih tahan lama (umur konsumsi lebih lama).
7)      Ada nilai tambah (dari satu sumber bahan baku dapat diolah menjadi berbagai variasi produk).
8)      Waktu pengolahan relative lebih singkat.
9)      Kegiatan dilakukan dalam ruang unit produksi.
Pengelolaan agroindustri dapat dikatakan unik, karena bahan bakunya yang berasal dari pertanian (tanaman, hewan, ikan) mempunyai tiga karakteristik, yaitu musiman (seasonality), mudah rusak (perishabelity), dan beragam (variability). Tiga karakteristik lainnya yang perlu mendapat perhatian adalah: Pertama, karena komponen biaya bahan baku umumnya merupakan komponen terbesar dalam agroindustri maka operasi mendatangkan bahan baku sangat menentukan operasi perusahaan agroindustri. Ketidakpastian produksi pertanian dapat menyebabkan ketidakstabilan harga bahan baku sehingga merumitkan pendanaan dan pengelolaan modal kerja. Kedua, karena banyak produk-produk agroindustri merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi atau merupakan komoditas penting bagi perekonomian suatu negara maka perhatian dan keterlibatan pemerintah dalam kegiatan agroindustri sering terlalu tinggi. Ketiga, karena suatu produk agroindustri mungkin diproduksi oleh beberapa negara maka agroindustrilokal terkait ke pasar internasional sebagai pasar alternatif untuk bahan baku, impor bersaing, dan peluang ekspor. Fluktuasi harga komoditas yang tinggi di pasar internasional memperbesar ketidakpastian finansial disisi input dan output. Salah satu permasalahan yang timbul akibat sifat karakteristik bahan baku agroindustri dari pertanian adalah tidak kontinyunya pasokan bahan baku, sehingga seringkali terjadi kesenjangan antara ketersediaan bahan baku dengan produksi dalam kegiatan agroindustri (idle investment).
Karakteristik agroindustri antara lain kegiatan produksi dipengaruhi oleh ketersediaan bahan baku yang dihasilkan dari kegiatan agribisnis, produktivitas hasil dipengaruhi oleh kreativitas dan tingkat pemanfaatan teknologi proses, penanganan produk pasca panen menjadi titik kritis, resiko keberhasilan usaha relative lebih kecil (dapat diprediksi lebih baik atau tidak tergantung alam), satu sumber bahan baku dapat menghasilkan produk yang bervariasi, produk yang dihasilkan lebih tahan lama (umur konsumsi lebih lama), ada nilai tambah (dari satu sumber bahan baku dapat diolah menjadi berbagai variasi produk), waktu pengolahan relative lebih singkat, kegiatan dilakukan dalam ruang unit produksi.

Pengembangan agroindustri memiliki prospek yang cerah untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian. Pengembangan agroindustri memiliki prospek yang cerah untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian. Peran agroindustri dalam perekonomian nasional suatu negara adalah sebagai berikut :
  1. Mampu meningkatkan pendapatan pelaku agribisnis khususnya dan pendapatan masyarakat pada umumnya ;
  2. Mampu menyerap tenaga kerja ;
  3. Mampu meningkatkan perolehan devisa ;
  4. Mampu menumbuhkan industri yang lain , khususnya industri pedesaan.

Untuk perkembangan lebih lanjut dari agroindustri ini, agar tampilannya lebih baik lagi pada masa depan, dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut :

  1. Melakukan penyesuaian terhadap perubahan global;
  2. Menigkatkan pertumbuhan melalui inovasi , investasi dan perdagangan;
  3. Menghilangkan faktor-faktor yang menghambat pertumbuhan;
  4. Menigkatkan efisiensi di semua sektor yang mempunyai kemampuan untuk memengaruhi perkembangan agroindustri lebih lanjut;
  5. Menigkatkan kualitas manajerial melalui peningkatan kualitas SDM; dan
  6. Mampu mandiri dengan tidak bagitu menggantungkan diri pada pihak lain

Referensi:

Assauri, S. 2000. Manajemen Produksi dan Operasi. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.
Austin JE. 1981. Agroindustrial Project Analysis. The World Bank. Washington DC.
Baroto, T. 2002. Perencanaan dan Pengendalian Produksi. Penerbit GhaliaIndonesia, Jakarta.
James GB, Deloitte & Tauche,  1994. Agroindustrial Invesment and Operation.  The World Bank. Washington DC.
da Silva CA, Baker D, Shepherd AW, Jenane C, Miranda-da-Cruz S. 2009. Agroindustries for Development. FAO and UNIDO. Rome.
Kusuma, H. 2004. Manajemen Produksi. Andi Yogyakarta, Yogyakarta.
Ma’arif MS, Tanjung H. 2003. Manajemen Operasi. Grasindo. Jakarta.
Pujawan IN. 2008. Supply Chain Management. Surabaya: PT Guna Widya.
Rangkuti, F. 2004. Manajemen Persediaan Aplikasi di Bidang Bisnis. Erlangga, Jakarta.
Herjanto E. 2003. Manajemen Produksi dan Operasi. Grasindo. Jakarta.
Santacoloma P, Rottger A, Tartanac F. 2009. Business Management for Small-scale Agroindustries. FAO. Rome.

No comments:

Post a Comment