Monday, June 29, 2015

Oleokimia Dasar : Asam Lemak dan Gliserol

Asam lemak dan gliserol merupakan senyawa penyusun trigliserida pada lemak/minyak. Oleh karena itu, asam lemak dan gliserol dapat diperoleh dengan menghidrolisis trigliserida (fat splitting).
Reaksi air dengan minyak/lemak menyebabkan putusnya beberapa ikatan ester dari minyak/lemak. Reaksi ini dapat dipercepat dengan menggunakan suhu dan tekanan yang tinggi.
Menurut Austin (1984), hidrolisis minyak/lemak (fat splitting) dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu Twitchell, Batch Autoclave dan Continuous Countercurrent. Perbandingan ketiga metode tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Perbandingan beberapa metode fat splitting

TWITCHELL
BATCH   AUTOCLAVE
CONTINUOUS COUNTERCURRENT
Temperatur, oC
100 - 105
150 - 175
240
250
Tekanan, MPag

5,2 - 10,0
2,9 - 3,1
4,1 - 4,9
Katalis
Alkyl-aryl sulfonic acids atau cycloaliphatic sulfonic acids
Zinc, calcium atau magnesium oxides,
1 – 2%
Tanpa katalis
Optional
Lama, jam
12 – 48
5 – 10
2 – 4
2 – 3
Sistem  operasi
Batch
Batch

Continuous
Terhidrolisa
85 – 95%
Diperoleh 5 – 15% larutan gliserol, tergantung banyaknya tahap dan jenis lemak
85 – 98%
Diperoleh 10 – 15% gliserol, tergantung banyaknya tahap dan jenis lemak
97 – 99%
Diperoleh 10 – 25% gliserol tergantung jenis lemak
Kelebihan
Temperatur dan tekanan yang digunakan rendah, dapat digunakan pada skala kecil, biaya awal rendah karena relatif sederhana dan peralatannya tidak mahal
Dapat digunakan pada skala kecil, biaya awal lebih rendah untuk skala kecil dibandingkan sistem continuous, lebih cepat dibandingkan Twitchell
Ruangan yang digunakan kecil, kualitas produk seragam, yield asamnya tinggi, konsentrasi gliserin tinggi, biaya tenaga kerja rendah, lebih akurat dan menggunakan kontrol otomatis, biaya tahunan lebih rendah.
Kekurangan
Perlu penanganan katalis, waktu reaksi lama, lemak kualitas rendah harus dimurnikan dulu dari asamnya untuk menghindari penghambatan katalis, konsumsi uap tinggi, asam yang terbentuk berwarna gelap, butuh lebih dari satu tahap untuk dapat yield dan konsentrasi gliserin yang tinggi, tidak dapat menggunakan kontrol otomatis, biaya tenaga kerja tinggi
Biaya awal tinggi, perlu penanganan katalis, reaksi lebih lama dibandingkan continuous, tidak dapat menggunakan kontrol otomatis, biaya tenaga kerja tinggi, butuh lebih dari satu tahap untuk mendapat yield dan konsentrasi gliserin yang tinggi
Biaya awal tinggi, Temperatur dan tekanan yang digunakan tinggi, memerlukan kemampuan operasi yang lebih baik

Menurut Gervasio (1996), selain tiga cara yang telah disebutkan di atas (Twitchell, Batch Autoclave dan Continuous Countercurrent) yang prinsipnya hidrolisis dengan suhu dan tekanan tinggi,  lemak dan minyak dapat dihidrolisis dengan bantuan enzim. Enzim pemecah lemak diperoleh dari Candida rugosa, Aspergillus niger dan Rhizopus arrhizu. Pemecahan lemak menggunakan enzim lipolitik membutuhkan biaya yang tinggi dan waktu reaksi yang lama sehingga tidak komersial.
Gliserol yang dihasilkan pada proses fat splitting ini berupa larutan yang mengandung gliserol 12% yang disebut juga dengan sweet water.  Untuk mendapatkan gliserol murni perlu dihilangkan komponen nongliserol dari larutan tersebut. Evaporasi dilakukan untuk mengurangi jumlah air sehingga konsentrasi larutan menjadi lebih tinggi (78%). Evaporasi hanya menghilangkan air, sedangkan komponen nongliserol lain seperti asam lemak (0,2%) masih terdapat dalam larutan tersebut. Untuk memisahkannya maka perlu ditambahkan sedikit caustik (senyawa basa) sehingga terjadi proses penyabunan (saponifikasi) dimana asam lemak akan berubah menjadi dalam bentuk garam sehingga ketika didestilasi komponen tidak terikut bersama gliserol. Selain asam lemak, komponen yang akan dihilangkan adalah warna. Oleh karena itu, dilanjutkan dengan proses bleaching, yaitu dengan menambahkan activated cachoa, yang memiliki pori-pori aktif yang dapat menyerap warna. Gliserol dapat juga di upgrade dengan proses pertukaran ion (ion-exchange) diikuti dengan evaporasi sehingga proses destilasi dapat ditiadakan, atau alternatif lain gliserol diekstrak dari larutan melalui pertukaran ion.
Dengan pemurnian gliserol di atas, akan diperoleh refined glyserol (99%). Diagram alir pemurnian gliserol dapat dilihat pada Gambar 4.3.
Selain berasal dari proses fat splitting untuk memproduksi asam lemak, gliserol juga merupakan by product dari beberapa proses industri oleokimia yaitu saponification untuk memproduksi sabun serta transesterification untuk memproduksi biodiesel (ester asam lemak).

Referensi:
Austin, G. T. 1984. Shreve’s Chemical Process Industries. 5th Ed. McGraw-Hill Book Company. New York.Hartley, C.W. 1977. The Oil Palm (Elaeis guineensis Jacq). 2nd Ed. Longman Group Limited. New York.
Buana, L., D. Siahaan dan S. Adiputra. 2003. Teknologi Pengolahan Kelapa Sawit dan Produk Turunannya. Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Medan.
Gunstone, F.D. 2004. The Chemistry of Oils and Fats: Sources, Composition, Properties and Uses. Blackwill Publishing Ltd. Victoria.
Hambali, E., A. Suryani dan Yuslinawati. 2005. Prosiding Seminar Nasional Pemanfaatan Surfaktan Berbasis Minyak Sawit untuk Industri. Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi. LPPM-IPB. Bogor
Hui, Y.H. 1996. Bailey’s Industrial Oil and Fat Products., 5th ed. Vol. 2, 3 & 4, Jhon Wiley & Sons, Inc., New York.
Ketaren S. 1986.  Pengantar Minyak dan Lemak Pangan. UI Press. Jakarta
Naibaho, P.M. 1998. Teknologi Pengolahan Kelapa Sawit. Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Medan.
Pahan, I. 2006. Panduan Lengkap Kelapa Sawit, Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga Hilir. Penebar Swadaya. Jakarta.
Poeloengan, Z., L. Buana dan Darnoko. 2000. Potensi Pengembangan Industri Hilir Kelapa Sawit di Indonesia. WARTA Pusat Pengembangan Kelapa Sawit (PPKS). Vol. 8. Medan.
Salunkhe, D.K.. 1992.World Oil Seed: Chemistry Teknology and Utilization, AVI Book, New York. 


Thursday, June 25, 2015

OLEOKIMIA DASAR

Oleokimia adalah bahan kimia yang diturunkan dari minyak atau lemak melalui proses splitting triasilgliserol menjadi derivat asam-asam lemaknya dan gliserol. Minyak atau lemak dapat berupa minyak nabati atau hewani dan proses splitting dapat dilakukan secara kimia maupun enzimatis.
Oleokimia ekuivalen dengan petrokimia, perbedaan utamanya terletak pada sumber bahan dasarnya. Petrokimia diturunkan dari petroleum atau minyak bumi/minyak mineral (mineral oil). Posisi petrokimia kini sudah mulai digantikan oleh oleokimia. Hal ini tidak terlepas dari keunggulan yang dimiliki oleh oleokimia, yaitu produk yang terbarukan (renewable), biodegradable dan lebih aman yang semuanya berhubungan dengan masalah lingkungan. Karbondioksida yang dihasilkan dari hasil reaksi oleokimia terjerat di atmosfer hanya beberapa bulan atau beberapa tahun yang waktunya lebih cepat dibandikngkan dari hasil reaksi dari petrokimia. Produk oleokimia juga mudah terdegradasi secara alami dalam waktu yang lebih singkat.
Bahan dasar oleokimia dapat berupa minyak/lemak nabati dan hewani. Sumber minyak nabati yang dapat digunakan adalah yang tergolong tropical oil, seperti minyak sawit (palm oil), minyak inti sawit (palm kernel oil) dan minyak kelapa (coconut oil) dan yang tergolong soft oil, seperti minyak kedelai (soya oil), sunflower oil,  dan rape oil. Sumber minyak/lemak hewani yang dapat digunakan adalah lemak sapi (tallow),lemak babi (lard) dan unggas (poultry).

Oleokimia yang paling dasar adalah asam-asam lemak dan gliserol, Asam-asam lemak dan gliserol ini didapat dari trigliserida yang menjadi unsur penyusun minyak/lemak nabati atau hewani. Oleokimia dasar yang banyak diproduksi adalah asam lemak (fatty acid), gliserol,  metil (atau golongan alkil yang lain) ester, fatty alkhohol dan fatty amine. Umumnya, oleokimia dasar diproduksi oleh negara berkembang yang kemudian bahan tersebut dapat diproses lebih lanjut menjadi produk akhir yang mempunyai nilai lebih tinggi.
Proses pembuatan produk turunan minyak/lemak untuk menjadi produk-produk oleokimia dapat dilakukan proses hidrolisis, esterifikasi, transesterifikasi, epoksidasi, etoxylasi, konjugasi, sulfatasi, amidasi, Hidrogenasi, Propoxylasi,

Kajian Penggunaan Edible Coating dari Kitosan untuk Membuat Keripik Nenas Rendah Lemak”

Pemberitaan Ilmiah PERCIKAN 01/2009; 103:113 - 117.

Penulis:
Yernisa dan Fitry Tafzi
Fakultas Pertanian Universitas Jambi

Keripik merupakan makanan ringan yang tergolong jenis makanan crackers dan kandungan lemaknya tinggi. Kandungan minyak yang terserap pada keripik dapat merugikan produsen dan konsumen..Salah satu cara untuk menurunkan kandungan lemak pada keripik nenas adalah dengan melapisi permukaan buah nenas dengan suatu film yang dapat dimakan (edible coating). Salah satu bahan edible coating yang mempunyai prospek cerah untuk dikembangkan adalah kitosan. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari pengaruh penggunaan kitosan sebagai bahan edible coating untuk mengurangi penyerapan minyak pada pembuatan keripik nenas. Perlakuan yang dicobakan adalah konsentrasi keripik nenas yaitu 0; 1 %; 1,5 % dan 2 %. Terhadap keripik nenas yang dihasilkan dilakukan pengamatan terhadap rendemen, kadar air, kadar lemak, kadar abu, persen keutuhan dan warna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keripik nenas yang diberi kitosan menghasilkan rendemen dan kadar air yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak diberi kitosan. Kitosan dapat mengurangi penyerapan minyak selama penggorengan sehingga kadar lemak keripik nenas yang dihasilkan lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak diberi kitosan. Tetapi keripik nenas yang diberi kitosan berwarna lebih coklat dan lebih gelap dibandingkan dengan yang tidak diberi kitosan.
Kajian Penggunaan Edible Coating dari Kitosan untuk Membuat Keripik Nenas Rendah Lemak” - ResearchGate. Available from: http://www.researchgate.net/publication/210256638_Kajian_Penggunaan_Edible_Coating_dari_Kitosan_untuk_Membuat_Keripik_Nenas_Rendah_Lemak [accessed Jun 25, 2015].

PANEN DAN PASCAPANEN BUAH SAWIT


Kelapa sawit biasanya mulai berbuah pada umur 3 – 4 tahun dan buahnya menjadi masak 5 – 6 bulan setelah penyerbukan. Tandan buah segar (TBS) dipanen saat kematangan buah tercapai dengan ditandai oleh sedikitnya 1 brondolan telah lepas/kg TBS. Dengan kriteria panen ini, diharapkan kandungan minyak dalam TBS optimal dengan kandungan asam lemak bebas (ALB) yang sangat rendah dan biaya panen yang relatif lebih ekonomi.
Hasil yang dapat diperoleh dari TBS ialah minyak sawit yang terdapat pada daging buah (mesokarp) dan   minyak inti sawit yang terdapat pada kernel. Kedua jenis minyak ini berbeda dalam hal komposisi asam lemak dan sifat fisika-kimia. Minyak sawit dan minyak inti sawit mulai terbentuk sesudah 100 hari setelah penyerbukan dan berhenti setelah 180 hari atau setelah dalam buah minyak sudah jenuh. Jika dalam buah sudah tidak terjadi pembentukan minyak, maka yang terjadi adalah pemecahan trigliserida menjadi asam lemak bebas dan gliserol. Pembentukan minyak berakhir jika dari tandan yang bersangkutan telah terdapat buah memberondol normal.
Minyak yang mula-mula terbentuk dalam buah adalah trigliserida yang mengandung asam lemak bebas jenuh, dan setelah mendekati masa pematangan buah terjadi pembentukan trigliserida yang mengandung asam lemak tidak jenuh. Minyak yang terbentuk dalam daging buah maupun dalam inti terbentuk emulsi pada kantong-kantong minyak, dan agar minyak tidak keluar dari buah, maka buah dilapisi dengan malam yang tebal dan berkilat.
Untuk melindungi minyak dari oksidasi yang dirangsang oleh sinar matahari maka tanaman tersebut membentuk senyawa kimia pelindung yaitu karoten. Setelah penyerbukan kelihatan buah berwarna hitam kehijau-hijauan dan setelah terjadi pembentukan minyak terjadi perubahan warna buah menjadi ungu kehijau-hijauan. Pada saat-saat pembentukan minyak terjadi yaitu trigliserida dengan asam lemak tidak jenuh, tanaman membentuk karoten dan phitol untuk melindungi dari oksidasi, sedangkan klorofil tidak mampu menjadi antioksidan.
Penentuan saat panen sangat mempengaruhi kandungan asam lemak bebas (ALB) minyak sawit yang dihasilkan. Apabila pemanenan buah dilakukan dalam keadaan lewat matang, maka minyak yang dihasilkan mengandung ALB dalam presentase tinggi ( lebih dari 5 %). Sebaliknya jika pemanenan dilakukan dalam keadaan buah belum matang, maka selain kadar ALB-nya rendah, rendemen minyak yang diperolehnya juga rendah.
Pengetahuan mengenai kriteria matang panen sangat dibutuhkan agar didapat hasil panen dengan rendemen minyak yang tinggi dengan kadar asam lemak bebas yang rendah. Kriteria matang panen berdasarkan jumlah berondolan yang jatuh berperan cukup penting dalam menentukan derajat kematangan buah. Berdasarkan hal tersebut di atas, dikenal ada beberapa tingkatan atau fraksi dari TBS yang dipanen. Fraksi-fraksi tersebut sangat mempengaruhi mutu panen, termasuk juga kualitas minyak sawit yang dihasilkan. Ada tujuh fraksi dan derajat kematangan TBS yang baik, derajat kematangan TBS untuk dipanen berada pada fraksi 2 dan 3.
Kriteria Kematangan Buah Kelapa Sawit
Fraksi buah
Kategori
Persyaratan
Jumlah brondolan
Fraksi 00 (F-00)
Fraksi 0 (F-0)
Sangat mentah (afkir)
Mentah
0,0%
Maks. 3,0%
Tidak ada
1 – 12,5% buah luar
Fraksi 1
Fraksi 2
Fraksi 3
Kurang matang
Matang I
Matang II
F1+F2+F3
min 85%
12,5%-25% buah luar
25-50% buah luar
50-75% buah luar
Fraksi 4
Fraksi 5
Lewat matang
Terlalu matang
Maks. 10%
Maks. 2,0%
>75% buah luar
Buah dalam membrondol
Brondolan
Tandan kosong
Buah busuk
Panjang tangkai TBS

Maks. 10%
0,0%
0,0%
Maks. 2,5 cm

Catatan:           dari hasil sampling TBS, diperoleh besaran Nilai Sortasi Panen (NSP) dengan rumus :                                                 
                       NSP = -5 (FOO) -1 (FO) + 1 (F1+2+3) + 0,5 (F5)                   
                        NSP yang memenuhi syarat adalah 80 – 100%                 

Sistem panen kelapa sawit dapat menghasilkan minyak sawit bermutu baik jika sistem panen memenuhi standar tertentu. Standar sistem panen yang ditentukan adalah: (1) tidak ada buah mentah yang dipanen, (2) tidak meninggalkan buah matang, (3) semua berondolan dikumpulkan dan dibawa ke tempat pengumpulan hasil (TPH) dalam kondisi bersih, (4) membrondolkan tandan yang terlalu matang, (5) memotong gagang/tangkai tandan, dan (6) pelepah harus dipotong dengan baik.
Agar ALB minimum, pengangkutan buah panen harus dilakukan sesegera mungkin. Selain itu juga perlu dijamin bahwa hanya buah yang cukup matang yang dipanen. Siklus panen yang pendek (7 hari atau kurang) dapat diterapkan untuk menjamin bahwa buah yang dipanen tidak lebih dari 3 hari dari saat matang optimum.
Kandungan asam lemak bebas buah sawit yang baru dipanen biasanya kurang dari 0,3%. ALB minyak yang diperoleh dari buah yang tetap berada dijanjang sebelum diolah (dan tidak mengalami memar) tidak pernah melewati 1,2%. Sedangkan ALB brondolan biasanya sekitar 5,0%. Di lain pihak, sangat jarang diperoleh ALB di bawah 2% pada crude palm oil (CPO) hasil produksi pabrik kelapa sawit (PKS), biasanya sekitar 3%. Peningkatan ALB yang mencapai sekitar 20 kali ini terjadi karena kerusakan buah selama proses panen sampai tiba di ketel perebusan. Kemungkinan penyebab utama kerusakan terjadi saat pengisian buah di tempat pemungutan, penurunan buah di tempat pengumpulan hasil, pengisian buah ke alat transportasi pembawa buah ke pabrik, penurunan buah di loading ramp dan pengisian buah ke lori. TBS yang memar akan membawa lebih banyak tanah dan kotoran yang akan membantu mempercepat kenaikan ALB oleh karena kontaminasi mikroorganisme, sekaligus menjadi sumber kontaminasi logam, diantaranya besi yang menjadi pro-oksidan proses hidrolisis minyak. Asam lemak bebas terbentuk karena adanya kegiatan enzim lipase yang terkandung di dalam buah dan berfungsi memecah lemak/minyak menjadi asam lemak dan gliserol. Kerja enzim tersebut semakin aktif  bila struktur sel buah matang mengalami kerusakan. Kerusakan buah saat panen selain berpengaruh terhadap ALB juga menurunkan daya pemucatan CPO. Warna inti juga menjadi lebih gelap pada buah yang rusak atau lewat matang.

Faktor transportasi dalam pengelolaan kebun kelapa sawit memiliki peran yang cukup penting. Keterlambatan pengangkutan TBS ke PKS (restan) akan mempengaruhi proses pengolahan, kapasitas olah, dan mutu produk akhir. Pengangkutan TBS diusahakan dengan menghindari pelukaan pada buah.
Pengangkutan TBS bertujuan mengirimkan TBS dan brondolan ke pabrik dalam keadaan baik melalui penanganan secara hati-hati dan menjaga jadwal pengiriman TBS secara tepat, sehingga minyak yang dihasilkan berkualitas baik dan pabrik kelapa sawit bekerja secara optimal. Kegiatan transpor buah merupakan mata rantai dari tiga faktor yaitu panen, pengangkutan dan pengolahan. Ketiga faktor tersebut merupakan faktor terpenting dan saling mempengaruhi. Efisiensi pengangkutan TBS akan tercapai apabila unit angkutan memuat TBS secara maksimal dengan waktu seefisien mungkin.
  
Pada stasiun penerimaan buah, TBS yang berasal dari kebun pertama kali diterima dan ditimbang di jembatan timbang. Setelah itu, buah dibawa ke tempat penampungan buah (loading ramp). Saat buah akan dituangkan (didump), dilakukan penyortiran buah. Sortasi buah yang dilakukan adalah sortasi untuk mengamati mutu buah yang diterima di PKS dan dilaksanakan di pelataran buah. Penyortiran tersebut bertujuan untuk memilih buah (TBS) yang layak/baik diolah di pabrik, sehingga dapat menghasilkan produk yang memenuhi standar produksi dari segi kualitas, kuantitas, dan kelangsungan alat produksi.

TBS yang telah sampai di loading ramp  sebaiknya segera diolah. Lama penyimpanan sebaiknya tidak lebih dari dua hari. Penyimpanan yang lebih lama dapat menyebabkan kerusakan minyak. Tandan yang pertama disimpan harus pertama yang diolah (first in, first out).                                                                                                                                                                                             Sumber:                                                                                                                                                     Buana L, Siahaan D, Adiputra S. 2003. Teknologi Pengolahan Kelapa Sawit dan Produk Turunannya. Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Medan.                                                                                                   Naibaho PM. 1998. Teknologi Pengolahan Kelapa Sawit. Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Medan.       Ketaren S. 1986.  Pengantar Minyak dan Lemak Pangan. UI Press. Jakarta.



Manajemen Agroindustri


A.      Pengertian Manajemen Agroindustri
Tahukan Anda bahwa hampir setengah dari kegiatan produksi di Negara berkembang terdiri atas kegiatan agroindustri? Atau setujukan Anda pada pernyataan bahwa pengolahan agroindustri merupakan salah satu langkah awal menuju industrialisasi? Dan mengapa diperlukan manajemen agroindustri? Untuk mengetahui jawaban pertanyaan di atas maka kita perlu memahami terlebih dahulu pengertian dari agroindustri serta manajemen agroindustri.
            Manajemen agroindustri terdri dari dua kata yaitu manajemen dan agroindustri. Manajemen adalah tindakan untuk mencapai suatu tujuan dengan cara mengkoordinasikan kegiatan orang lain. Fungsi-fungsi atau kegiatan manajemen melipiti perencanaan, organisasi, staffing, koordinasi, pengarahan dan pengawasan. Sedangkan agroindustri berasal dari dua kata yaitu agricultural dan industry yang berarti suatu industri yang menggunakan hasil pertanian sebagai bahan baku utamanya atau suatu industri yang menghasilkan suatu produk yang digunakan sebagai sarana atau input dalam usaha pertanian. Menurut Austin (1981), agroindustri adalah perusahaan yang memproses bahan baku pertanian, termasuk hasil nabati atau hewani. Proses yang diterapkan mencakup pengubahan dan pengawetan melalui perlakuan fisik dan kimiawi, penyimpanan, pengemasan dan distribusi. Produk agroindustri dapat merupakan produk akhir yang siap dikonsumsi atau digunakan oleh manusia atau sebagai produk bahan baku industri lain. Dengan demikian, manajemen agroindustri dapat diartikan sebagai pengelolaan suatu industri yang berbahan baku utama hasil pertanian. Dengan adanya manajemen dalam agroindustri, diharapkan  sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan dapat dimanfaatkan secara optimal dengan tetap mempertimbangkan keberlanjutannya.
            Kegiatan agroindustri merupakan bagian integral dari sektor pertanian yang mempunyai kontribusi penting dalam proses industrialisasi terutama di wilayah pedesaan. Efek agroindustri tidak hanya mentransformasikan produk primer ke produk olahan tetapi juga budaya kerja dari agraris tradisional yang menciptakan nilai tambah rendah menjadi budaya kerja industrial modern yang menciptakan nilai tambah tinggi. Berdasarkan Tabel 1, agroindustri dapat dikategorikan berdasarkan tingkat proses perubahan bentuk.

Tabel 1. Kategori agroindustri berdasarkan tingkat proses perubahan bentuk
Tingkatan/level
I
II
III
IV
Pembersihan
Pemintalan
Pemasakan
Perubahan kimia
Pengelompokan
Penggilingan
Pasteurisasi
Pembentukan

Pemotongan
Pengalengan


Pencampuran
Penguapan



Pembekuan



Penenunan



Ekstraksi



Perakitan

Sumber: Austin (1981)

Strategi pengembangan agroindustri yang dapat ditempuh harus disesuaikan dengan karakteristik dan permasalahan agroindustri yang bersangkutan. Secara umum permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan agroindustri adalah: (a) sifat produk pertanian yang mudah rusak dan bulky sehingga diperlukan teknologi pengemasan dan transportasi yang mampu mengatasi masalah tersebut; (b) sebagian besar produk pertanian bersifat musiman dan sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim sehingga aspek kontinuitas produksi agroindustri menjadi tidak terjamin; (c) kualitas produk pertanian dan agroindustri yang dihasilkan pada umumnya masih rendah sehingga mengalami kesulitan dalam persaingan pasar baik didalam negeri maupun di pasar internasional; dan (d) sebagian besar industri berskala kecil dengan teknologi yang rendah.

Setelah mengetahui pengertian dari agroindustri, maka kita dapat mengetahui bahwa penerapan agroindustri sangat luas di bidang industri. Akan tetapi, apakah Anda dapat membedakan industri mana yang termasuk dalam ranah agroindustri dan industri yang seperti apa yang tidak termasuk dalam ranah ini? Pengetahuan mengenai ruang lingkup agroindustri sangat penting dalam menentukan jenis industri yang termasuk dalam ranah agroindustri.
            Agroindustri merupakan sub sektor yang luas yang meliputi industri hulu sektor pertanian sampai dengan industri hilir. Agroindustri hulu, yakni subsektor industri yang menghasilkan sarana produksi pertanian. industri ini yaitu hanya industri yang menghasilkan produksi yang berhubungan langsung dengan kebutuhan proses produksi pertanian, misalnya industry pupuk, pestisida. Agroindustri hilir, yakni subsektor industri yang mengolah hasil-hasil pertanian, misalnya industri crumb rubber yang mengolah lateks menjadi karet remah, industri pengolahan daun teh menjadi teh siap seduh, industri pengolahan gandum menjadi tepung.
Untuk lebih spesifiknya lagi, secara garis besar agroindustri dapat digolongkan menjadi empat golongan, antara lain:
a)      Industri peralatan dan mesin-mesin pertanian (IPMP)
      Mesin budidaya pertanian, yang mencangkup alat dan mesin pengolahan lahan (cangkul, bajak, traktor)
      Mesin pengolahan hasil pertanian, yang meliputi alat dan mesin pengolahan berbagai komoditas pertanian, misalnya mesin perontok gabah, mesin penggilingan padi, mesin pengering dan lain sebagainya.
b)      Industri pengolahan hasil pertanian (IPHP)
Agroindustri pengolahan hasil pertanian merupakan bagian dari agroindustri, yang mengolah bahan baku pangan, non pangan dan perhutanan, seperti:
      Pengolahan pangan/hasil tanaman pangan
      Pengolahan hasil tanaman perkebunan
      Pengolahan hasil perikanan/perairan
      Pengolahan hasil ternak
      Pengolahan hasil hutan
      Pengolahan limbah hasil pertanian
Pengolahan yang dimaksud meliputi pengolahan berupa proses transformasi dan pengawetan melalui perubahan fisik atau kimiawi, penyimpanan, pengepakan, dan distribusi. Pengolahan dapat berupa pengolahan sederhana seperti pembersihan, pemilihan (grading), pengepakan atau dapat pula berupa pegolahan yang lebih canggih, seperti penggilingan (milling), penepungan (powdering), ekstraksi dan penyulingan (extraction), penggorengan (roasting), pemintalan (spinning), pengalengan (canning) dan proses pabrikasi lainnya.
c)      Industri input pertanian
Misalnya pengolahan pupuk, pengolahan pestisida, pengolahan herbisida, dll
d)     Industri jasa sektor pertanian (IJSP)
      Komunikasi, menyangkut teknologi perangkat lunak yang melibatkan penggunaan komputer serta alat komunikasi modern lainya.
      Perdagangan, yang mencakup kegiatan pengangkutan, pengemasan serta penyimpanan baik bahan baku maupun produk hasil industri pengolahan pertanian.
      Konsultasi, meliputi kegiatan perencanaan, pengelolaan, pengawasan mutu serta evaluasi dan penilaian proyek.

Sebelum mengembangkan agroindustri pemilihan jenis agroindustri merupakan keputusan yang paling menentukan keberhasilan dan keberlanjutan agroindustri yang akan dikembangkan. Pilihan tersebut ditentukan oleh kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada tiga komponen dasar agroindustri, yaitu pengadaan bahan baku, pengolahan dan pemasaran. Pemasaran biasanya merupakan titik awal dalam analisis proyek agroindustri. Analisis pemasaran mengkaji lingkungan eksternal atau respon terhadap produk agroindustri yang akan ditetapkan dengan melakukan karakteristik konsumen, pengaruh kebijaksanaan pemerintah dan pasar internasional.
Kelangsungan agroindustri ditentukan pula oleh kemampuan dalam pengadaan bahan baku. Tetapi pengadaan bahan baku jangan sampai merupakan isu yang dominan sementara pemasaran dipandang sebagai isu kedua, karena baik pemasaran maupun pengadaan bahan baku secara bersama menentukan keberhasilan agroindustri. Tetapi karena pengkajian agronomi memerlukan waktu dan sumberdaya yang cukup banyak maka identifikasi kebutuhan pasar sering dilakukan terlebih dahulu. Alasan lain adalah karena lahan dapat digunakan untuk berbagai tanaman atau ternak, sementara pengkajian pemasaran dapat memilih berbagai alternatif tanaman atau ternak.
Karakteristik agroindustri yang menonjol sebenarnya adalah adanya ketergantungan antar elemen-elemen agroindustri, yaitu pengadaan bahan baku, pengolahan, dan pemasaran produk. Karakteristik agroindustri antara lain:
1)     Kegiatan produksi dipengaruhi oleh ketersediaan bahan baku yang dihasilkan dari kegiatan agribisnis.
2)      Produktivitas hasil dipengaruhi oleh kreativitas dan tingkat pemanfaatan teknologi proses.
3)      Penanganan produk pasca panen menjadi titik kritis.
4)   Resiko keberhasilan usaha relative lebih kecil (dapat diprediksi lebih baik atau tidak tergantung alam).
5)      Satu sumber bahan baku dapat menghasilkan produk yang bervariasi.
6)      Produk yang dihasilkan lebih tahan lama (umur konsumsi lebih lama).
7)      Ada nilai tambah (dari satu sumber bahan baku dapat diolah menjadi berbagai variasi produk).
8)      Waktu pengolahan relative lebih singkat.
9)      Kegiatan dilakukan dalam ruang unit produksi.
Pengelolaan agroindustri dapat dikatakan unik, karena bahan bakunya yang berasal dari pertanian (tanaman, hewan, ikan) mempunyai tiga karakteristik, yaitu musiman (seasonality), mudah rusak (perishabelity), dan beragam (variability). Tiga karakteristik lainnya yang perlu mendapat perhatian adalah: Pertama, karena komponen biaya bahan baku umumnya merupakan komponen terbesar dalam agroindustri maka operasi mendatangkan bahan baku sangat menentukan operasi perusahaan agroindustri. Ketidakpastian produksi pertanian dapat menyebabkan ketidakstabilan harga bahan baku sehingga merumitkan pendanaan dan pengelolaan modal kerja. Kedua, karena banyak produk-produk agroindustri merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi atau merupakan komoditas penting bagi perekonomian suatu negara maka perhatian dan keterlibatan pemerintah dalam kegiatan agroindustri sering terlalu tinggi. Ketiga, karena suatu produk agroindustri mungkin diproduksi oleh beberapa negara maka agroindustrilokal terkait ke pasar internasional sebagai pasar alternatif untuk bahan baku, impor bersaing, dan peluang ekspor. Fluktuasi harga komoditas yang tinggi di pasar internasional memperbesar ketidakpastian finansial disisi input dan output. Salah satu permasalahan yang timbul akibat sifat karakteristik bahan baku agroindustri dari pertanian adalah tidak kontinyunya pasokan bahan baku, sehingga seringkali terjadi kesenjangan antara ketersediaan bahan baku dengan produksi dalam kegiatan agroindustri (idle investment).
Karakteristik agroindustri antara lain kegiatan produksi dipengaruhi oleh ketersediaan bahan baku yang dihasilkan dari kegiatan agribisnis, produktivitas hasil dipengaruhi oleh kreativitas dan tingkat pemanfaatan teknologi proses, penanganan produk pasca panen menjadi titik kritis, resiko keberhasilan usaha relative lebih kecil (dapat diprediksi lebih baik atau tidak tergantung alam), satu sumber bahan baku dapat menghasilkan produk yang bervariasi, produk yang dihasilkan lebih tahan lama (umur konsumsi lebih lama), ada nilai tambah (dari satu sumber bahan baku dapat diolah menjadi berbagai variasi produk), waktu pengolahan relative lebih singkat, kegiatan dilakukan dalam ruang unit produksi.

Pengembangan agroindustri memiliki prospek yang cerah untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian. Pengembangan agroindustri memiliki prospek yang cerah untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian. Peran agroindustri dalam perekonomian nasional suatu negara adalah sebagai berikut :
  1. Mampu meningkatkan pendapatan pelaku agribisnis khususnya dan pendapatan masyarakat pada umumnya ;
  2. Mampu menyerap tenaga kerja ;
  3. Mampu meningkatkan perolehan devisa ;
  4. Mampu menumbuhkan industri yang lain , khususnya industri pedesaan.

Untuk perkembangan lebih lanjut dari agroindustri ini, agar tampilannya lebih baik lagi pada masa depan, dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut :

  1. Melakukan penyesuaian terhadap perubahan global;
  2. Menigkatkan pertumbuhan melalui inovasi , investasi dan perdagangan;
  3. Menghilangkan faktor-faktor yang menghambat pertumbuhan;
  4. Menigkatkan efisiensi di semua sektor yang mempunyai kemampuan untuk memengaruhi perkembangan agroindustri lebih lanjut;
  5. Menigkatkan kualitas manajerial melalui peningkatan kualitas SDM; dan
  6. Mampu mandiri dengan tidak bagitu menggantungkan diri pada pihak lain

Referensi:

Assauri, S. 2000. Manajemen Produksi dan Operasi. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.
Austin JE. 1981. Agroindustrial Project Analysis. The World Bank. Washington DC.
Baroto, T. 2002. Perencanaan dan Pengendalian Produksi. Penerbit GhaliaIndonesia, Jakarta.
James GB, Deloitte & Tauche,  1994. Agroindustrial Invesment and Operation.  The World Bank. Washington DC.
da Silva CA, Baker D, Shepherd AW, Jenane C, Miranda-da-Cruz S. 2009. Agroindustries for Development. FAO and UNIDO. Rome.
Kusuma, H. 2004. Manajemen Produksi. Andi Yogyakarta, Yogyakarta.
Ma’arif MS, Tanjung H. 2003. Manajemen Operasi. Grasindo. Jakarta.
Pujawan IN. 2008. Supply Chain Management. Surabaya: PT Guna Widya.
Rangkuti, F. 2004. Manajemen Persediaan Aplikasi di Bidang Bisnis. Erlangga, Jakarta.
Herjanto E. 2003. Manajemen Produksi dan Operasi. Grasindo. Jakarta.
Santacoloma P, Rottger A, Tartanac F. 2009. Business Management for Small-scale Agroindustries. FAO. Rome.

APLIKASI PEWARNA BUBUK ALAMI DARI EKSTRAK BIJI PINANG (Areca catechu L.) PADA PEWARNAAN SABUN TRANSPARAN (APPLICATION OF NATURAL DYE POWDER FROM SEEDS OF Areca catechu L. IN TRANSPARENT SOAP)

Jurnal Teknologi Industri Pertanian
23 (3):190-198 (2013)

Penulis : Yernisa, E. Gumbira-Said dan Khaswar Syamsu

Application of natural dye powder from seeds of Areca catechu L. in transparent soap was studied. The objective of this study was to determine the effect of areca seeds extracted powder and the type of vegetable oil to the characteristics of transparent soap. Areca seed extracted powder being used in this study were areca extracted seed powder without a binder and areca seed extracted powder with a binder (arabic gum 2% w/w). Two types of vegetable oil for making transparent soap were used in this study namely coconut oil and mixed of coconut oil and palm oil (15:5 w/w). As a control, there were transparent soaps made without addition of areca seeds powder. Transparent soap from all combinations of treatment had colour range yellow red. Mixed of coconut oil and palm oil (15:5 w/w) gave higher foam stability and lower hardness than coconut oil but did not give significant effect on moisture content and pH value. Type of areca seeds extracted powder had no significant difference in moisture content, hardness and pH value but had significant effect on foam stability of transparent soap. The presence of arabic gum in areca seeds extracted powder enhanced foam stability of transparent soap from coconut oil and reduced color change in transparent soap after six months of storage.

Keywords: Areca catechu, natural dye powder, transparent soap


Pewarna alami merupakan alternatif pewarna yang tidak toksik, dapat diperbaharui (renewable), mudah terdegradasi dan ramah lingkungan. Penelitian ini memanfaatkan biji pinang (Areca catechu L.) sebagai pewarna alami. Biji pinang diekstrak kemudian dikeringkan menggunakan pengering semprot (spray drier) menghasilkan pewarna bubuk. Biji pinang mengandung polifenol yang bermanfaat untuk kulit sehingga pewarna bubuk ekstrak biji pinang yang dihasilkan diaplikasikan pada sabun transparan yang biasa digunakan sebagai sabun perawatan dan kecantikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan bubuk ekstrak biji pinang dan jenis minyak terhadap karakteristik sabun transparan yang dihasilkan. Bubuk ekstrak biji pinang yang digunakan adalah bubuk ekstrak biji pinang tanpa bahan pengisi dan bubuk ekstrak biji pinang dengan bahan pengisi (gum arab 2% b/b). Minyak yang digunakan untuk membuat sabun transparan terdiri dari dua jenis, yaitu minyak kelapa dan campuran minyak kelapa dengan kelapa sawit (15:5 b/b). Kontrol yang digunakan adalah sabun transparan tanpa penambahan bubuk ekstrak biji pinang. Semua kombinasi perlakuan jenis minyak dan jenis pewarna bubuk ekstrak biji pinang menghasilkan sabun transparan pada kisaran warna merah kuning. Jenis minyak berpengaruh terhadap stabilitas busa dan kekerasan sabun transparan pada semua jenis pewarna bubuk ekstrak biji pinang yang digunakan dimana campuran minyak kelapa dan minyak kelapa sawit (15:5 b/b) menghasilkan sabun transparan dengan stabilitas busa yang lebih tinggi dan kekerasan yang lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan menggunakan minyak kelapa akan tetapi tidak berbeda nyata pada kadar air dan nilai pH. Jenis pewarna bubuk ekstrak biji pinang tidak berpengaruh nyata terhadap kadar air, kekerasan dan nilai pH tetapi berpengaruh terhadap stabilitas busa sabun transparan. Keberadaan bahan pengisi gum arab pada bubuk ekstrak biji pinang meningkatkan stabilitas busa pada sabun transparan yang menggunakan bahan baku minyak kelapa. Penggunaan gum arab pada bubuk pewarna ekstrak biji pinang dapat menurunkan perubahan warna pada sabun transparan selama penyimpanan enam bulan.

Kata kunci: Pinang, pewarna alami bubuk, sabun transparan